Sabtu, 08 Juli 2017

" Budaya ngopi "sebagai simbol persaudaraan





KORANJATIM. COM,  Tulungagung
Sebagai masyarakat "budaya ngopi" bukan hal asing di Kabupaten Tulungagung, kita tahu di setiap desa bahkan di setiap RT atau RW selalu tersedia yang namanya warung kopi.

Masyarakat Tulungagung yang kondisinya  setiap harinya selalu dinamis dgn berbagai kesibukan kerja membuat orang selalu meluangkan waktunya untuk selalu bersosialisasi dgn rekan kerja dan lingkungannya.
Terbukti saat sedang istirahat kerja mereka selalu mengunjungi kedai /warung kopi yang ada di sekitar tempat kerja, mereka ramai-ramai sambil bercengkerama dan berdiskusi serta saling mengabarkan kondisi keluarganya masing-masing. Tampak sangat hangat pembicaraan mereka sampai waktunya istirahat telah selesai dan melanjutkan kerjanya lagi.

Begitu pula suasana malam hari, Tulungagung yang di juluki sebagai kota "Marmer" ini selalu ramai seolah tiada sepi walaupun sampai larut malam. Banyak yang menikmati malam sambil minum kopi dan beberapa tempat warung kopi itu di lengkapi dengan fasilitas karaoke, ngopi dan nyanyi bersama. Suatu hari,  saya juga sempat mampir sekedar mau ngopi dengan beberapa teman di sebuah warung kopi dan tampak para penyaji kopi menyambut dengan ramah.

Sungguh menarik dan patut di pertahankan perilaku masyarakat yg selalu mempunyai jiwa menghargai, saling tegur sapa, hangat bersahabat dan tidak saling merendahkan satu dengan yang lain. Selintas tentang budaya ngopi.

ALM - pemerhati lingkungan.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

About