Selasa, 25 Juli 2017

Potret Pendidikan kita



Pendidikan itu merupakan bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara, sebab melalui dunia pendidikan itulah diharapkan lahir generasi2 bangsa yg mempunyai kualitas sebagai pribadi2 yang  siap bersaing menghadapi persaingan bebas diera globalisasi,  sekaligus diharapkan siap menerima tongkat estafet kepemimpinan bagi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Dengan kata lain pendidikan itu merupakan pintu utama munculnya generasi2 penerus bagi bangsa indonesia.

Berbicara pendidikan, maka tdk bisa dipisahkan dgn pemuda dan pemudi.

Dalam konteks pemuda sebagai generasi penerus, semestinya pemerintah harus menempatkan pemuda sebagai aset bagi bangsa ini, sehingga penganggaranyapun harus betul2 terfokus dan profesional.

Artinya, pendidikan itu seharusnya ditangani secara idependen dan tdk boleh dimuati oleh kepentingan2 lainnya.

Namun kenyataannya pendidikan kita ini tdk bisa berjalan sebagaimana yg kita harapkan, krn dimuati oleh unsur politik dan bisnis.

Padahal pendidikan yg maju itu diperlukan biaya besar dan seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa, dgn kata lain bahwa pendidikan itu tdk bisa diserahkan sepenuhnya kpd pemerintah, tetapi perlu adanya peran serta dari masyarakat.

Dengan adanya sistem demokrasi terbuka seperti saat ini, dimana proses pemilu dipilih langsung oleh masyarakat, maka dampak dari itu semua, sekolah menjadi korban dari pencitraan2 calon kepala daerah, dimana saat pemilu selalu dijadikan issue adanya sekolah gratis, sehingga pernyataan tsb menjadi penghalang bagi peran serta masyarakat. Contoh : saat sekolah membutuhkan perangkat pendukung untuk proses belajar mengajar yg seharusnya bisa dimintakan bantuan orang tua wali murid melalui komite sekolah,  menjadi terhambat krn adanya pernyataan sekolah gratis tadi dan bahkan terkadang kepala daerah terpilih tdk segan2 melarang sekolah memunggut dana dari masyarakat.

Demikian juga dgn dunia bisnis, pendidikan itu memerlukan banyak item2 perangkat pendukung, mulai dari buku pelajaran, alat peraga dan lain2, disini muncul peluang2 bisnis yg sangat mengiyurkan, sehingga pelaksanaan pengadaannyapun terkadang penuh dgn permainan2 yg berdampak pada murid dan juga wali murid serta guru2nya, dimana ada kecenderungan, ganti menteri, ganti sistem dan aturan, bahkan kurikulum pelajarannyapun diganti dgn berbagai alasan dan ini semua memunculkan bisnis2 baru pada sisi pengadaan barang.

Ini perlu ada pembahasan, krn bicara pendidikan tdk bisa dilepaskan dari anak, cucu, cicit kita kedepan, termasuk nasib bangsa kita kedepannya.

Oleh  : Dwi Oetomo


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

About